Latest

DIPLOMATIK IRAN ADALAH KEDOK TERORISME PARA MULLA?

Komentar Ahli: Perbedaan Syi'ah-Sunni yang Tidak Bisa Ditolerir

Perbedaan mendasar antara akidah Syi'ah dan Sunni bukan sekadar persoalan khilafiyah yang dapat dikompromikan lewat dialog. Para ulama menekankan bahwa jurang pemisah keduanya menyentuh sendi rukun iman, konsep kenabian, serta otoritas keagamaan yang tidak mungkin dipertemukan dengan pendekatan relativisme kebenaran.

Dalam khazanah pemikiran Islam, istilah "perbedaan" sering disalahartikan sebagai sesuatu yang netral dan dapat hidup berdampingan. Padahal, ketika menyangkut akidah yang bersinggungan dengan keesaan Allah, kedudukan para sahabat, dan sumber hukum syariat, selisih paham ini memiliki konsekuensi teologis yang melampaui perdebatan furu'iyyah semata.

Komentar para ahli dari berbagai lembaga penelitian Islam internasional menunjukkan bahwa perbedaan Syi'ah dan Sunni menyentuh aspek yang oleh banyak pengamat disebut sebagai titik pisah yang tidak dapat ditolerir. Bukan karena fanatisme kelompok, melainkan karena masing-masing pihak memiliki fondasi epistemologis yang berbeda secara asasi.

Kajian terhadap kitab-kitab rujukan Syi'ah menjadi salah satu cara memahami mengapa jurang perbedaan ini tidak dapat dianggap ringan. Melalui membedah buku-buku referensi syi'ah isi dan bahayanya, pembaca dapat melihat bagaimana doktrin Syi'ah dibangun di atas narasi yang bertentangan dengan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Akar historis dan sumber doktrin

Perbedaan paling fundamental antara Syi'ah dan Sunni terletak pada peristiwa suksesi setelah wafatnya Rasulullah SAW. Syi'ah meyakini bahwa kepemimpinan umat harus turun melalui garis keturunan langsung Ali bin Abi Thalib dan para imam dari keturunannya. Sunni berpandangan bahwa pemilihan pemimpin merupakan urusan ijtihad umat melalui musyawarah.

Kajian historis menunjukkan bahwa doktrin Syi'ah tidak muncul secara organik dari generasi sahabat, melainkan terbentuk melalui akulturasi dengan pemikiran Persia pra-Islam. Elemen kultus kepemimpinan, konsep inkarnasi ketuhanan, dan tradisi memuja figur imam merupakan warisan tradisi Majusi yang bertransformasi menjadi doktrin keislaman.

Sumber utama ajaran Syi'ah merujuk pada empat kitab hadits mereka, yaitu al-Kafi, Man La Yahduruhu al-Faqih, al-Tahdhib, dan al-Istibsar. Keempat kitab ini memuat riwayat yang oleh banyak kritikus hadits dianggap memiliki sanad lemah. Bandingkan dengan kitab hadits Sunni seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang telah melalui verifikasi matan dan sanad secara ketat selama berabad-abad.

Konsep imamah versus khilafah

Konsep imamah dalam pemikiran Syi'ah bukan sekadar jabatan politik, melainkan bagian dari akidah yang wajib diimani. Menurut doktrin Syi'ah Itsna 'Asyariyah, imam adalah sosok ma'sum atau terjaga dari dosa yang memiliki kedudukan hampir setara dengan para nabi. Mereka percaya bahwa imam memiliki pengetahuan gaib dan kemampuan menafsirkan wahyu secara otoritatif.

Dalam perspektif Sunni, konsep imamah yang demikian jelas menyalahi prinsip bahwa tidak ada makhluk ma'sum selain para nabi. Ajaran tentang imam yang mengetahui hal gaib dianggap bertentangan dengan al-Quran yang menyatakan bahwa ilmu gaib hanya milik Allah. Konflik teologis ini menjadi salah satu sumber utama permusuhan historis di antara kedua kelompok.

Perbedaan konsep kepemimpinan ini juga berimplikasi pada struktur sosial dan politik. Ketika sebuah komunitas memiliki pemimpin yang dipandang memiliki otoritas keagamaan absolut, muncul potensi terbentuknya kekuatan politik yang dapat mengancam stabilitas pemerintahan yang sah menurut konstitusi.

Sistem otoritas keagamaan

Dalam tradisi Sunni, otoritas keagamaan tidak terpusat pada satu figur melainkan pada kelembagaan ulama yang kapasitas ilmunya diakui melalui sanad keilmuan yang bersambung kepada Rasulullah. Keputusan hukum dan fatwa dihasilkan melalui ijtihad kolektif yang melibatkan banyak ahli di berbagai belahan dunia muslim.

Syi'ah memiliki struktur berbeda dengan konsep marja'iyah, yaitu tokoh agama tertinggi yang menjadi rujukan tunggal bagi seluruh umat Syi'ah. Umat Syi'ah umumnya wajib mengikuti fatwa marja' mereka, termasuk dalam hal-hal yang sangat pribadi seperti pernikahan dan ibadah harian.

Konsentrasi otoritas pada satu figur marja' sering dimanfaatkan kekuatan geopolitik tertentu untuk memperluas pengaruh. Peran menjaga aqidah Sunni di tengah gempuran ideologi Syi'ah menjadi semakin krusial ketika jaringan marja' internasional terbukti berafiliasi dengan kekuatan yang berseberangan dengan kepentingan dunia Islam Sunni.

Pandangan tentang sahabat dan sejarah awal Islam

Salah satu titik pisah paling sensitif antara Syi'ah dan Sunni adalah penilaian terhadap para sahabat Nabi, khususnya Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Mayoritas ulama Sunni memandang mereka sebagai sebaik-baik generasi setelah para nabi, sementara dalam tradisi Syi'ah sebagian sahabat dituduh berkhianat dengan tidak mengakui hak kekhalifahan Ali.

Doktrin mencaci sahabat merupakan doktrin yang sulit diterima oleh Sunni karena bertentangan dengan ayat-ayat al-Quran yang memuji para sahabat. Sikap ini menjadi sumber permusuhan berkepanjangan yang termanifestasikan dalam ritual peringatan duka tahunan seperti Asyura.

Perbedaan penilaian terhadap sahabat ini juga membedakan cara kedua kelompok memahami sirah Nabi. Sunni membangun narasi sejarah berdasarkan consensus umat yang telah diwariskan selama empat belas abad, sementara Syi'ah merekonstruksi sejarah berdasarkan riwayat yang diragukan validitasnya.

Dampak sosial dan geopolitik

Perbedaan akidah ini bukan semata wacana teologis di ruang seminar, melainkan memiliki dampak sosial nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Di berbagai belahan dunia, perbedaan Sunni-Syi'ah telah memicu konflik horizontal yang memakan banyak korban dan merusak tatanan sosial.

Implikasi geopolitik dari perbedaan ini tidak kalah serius, di mana kekuatan regional seperti Iran menggunakan doktrin Syi'ah sebagai alat memperluas pengaruh politik. Ekspansi milisi Syi'ah di berbagai negara menjadi bukti nyata bagaimana doktrin keagamaan dapat bertransformasi menjadi instrumen kekuasaan.

Di tengah kompleksitas ini, umat Islam Sunni dituntut memiliki pemahaman yang kuat terhadap aqidahnya. Tanpa fondasi akidah yang kokoh, infiltrasi ideologi Syi'ah akan semakin mudah dilakukan melalui jalur pendidikan, budaya, dan bantuan kemanusiaan.

Langkah strategis memperkuat benteng aqidah

  • Pelajari dasar-dasar akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah dari kitab klasik mu'tabar seperti karya Imam Asy'ari dan Imam al-Baqillani.
  • Waspadai buku terjemahan atau karya intelektual yang menyajikan doktrin Syi'ah sebagai bagian dari Islam mainstream tanpa kritik.
  • Perkuat jaringan dakwah di lingkungan keluarga dan komunitas untuk memberikan pemahaman yang benar kepada generasi muda.
  • Dukung lembaga pendidikan dan media yang konsisten menyuarakan aqidah Sunni berdasarkan dalil al-Quran dan as-Sunnah yang shahih.
  • Jauhi fanatisme berlebihan dan tetap berpegang pada adab Islam dalam merespons perbedaan, tanpa kompromi terhadap prinsip akidah fundamental.
Read More